Sopir Angkot Medan Ogah Turunkan Tarif


MEDANMENDAI.com, MEDAN – Sopir angkutan kota (angkot) masih menolak rencana penurunan tarif angkutan seiring dengan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Para sopir berdalih tarif angkot tidak bisa serta-merta diturunkan karena harga BBM yang turun juga tidak terlalu signifikan.
“Kenapa sekarang sedikitsedikit minta turunkan ongkos. Padahal, harga BBM yang turun pun tak seberapa. Dengan tarif yang sekarang ini saja para sopir masih kesulitan, ditambah penurunan lagi. Kami sekarang belum bisa menurunkan tarif angkutan untuk di Medan,” kata Jumiar Silitonga, 38, sopir Angkot Kenari rute Aksara-Percut Sei Tuan ketika diwawancarai
Jumiar mengatakan, bukan hanya sopir angkot, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Medan juga sekarang masih ogah untuk membahas penurunan tarif angkutan. Alasannya, hingga sekarang harga suku cadang (spare part) kendaraan masih melambung tinggi. Penurunan tarif angkutan ini seharusnya dibarengi dengan penurunan harga onderdil kendaraan.
“Jika harga onderdil turun, kami pun dengan senang hati menurunkan tarif angkutan ini. Tapi sekarang apa yang terjadi, harga onderdil masih mahal, belum turun-turun dari dulu. Kenapa pemerintah juga tak memprotes harga onderdil yang selangit ini,” tandasnya. Jumiar mengatakan, hingga sekarang semua sopir angkot di rute ini masih memberlakukan tarif lama meski harga BBM telah turun per 1 April lalu.
Tarif tersebut Rp5.200 per estafet untuk penumpang umum. Kemudian, Rp4.500 per estafet untuk penumpang pelajar maupun mahasiswa. “Belum ada penurunan sampai sekarang. Memang sudah mulai ada protes dari penumpang, tapi kami juga belum bisa penuhi karena harga spare part seolah tak ada turunnya dari dulu. Padahal, harga BBM sendiri sudah dua kali turun belakangan ini,” katanya.
Jika dipaksa untuk menurunkan tarif ini, dia takut tak bisa memenuhi jumlah setoran setiap harinya senilai Rp120.000. Untuk mencapai jumlah itu, Jumiar mengaku harus bekerja hingga malam hari. “Itu pun sering tak dapat setorannya. Kami bingung ini kalau nanti dipaksa menurunkan tarif,” ujar Jumiar.
Senada, Jamal Hasibuan, 35, sopir angkot Rahayu mengatakan masih tetap menggunakan tarif lama meski harga BBM sudah turun. Para sopir masih sangat berat hati menurunkan tarif tersebut karena hingga sekarang belum ada penurunan harga spare part kendaraan. Bahkan, harganya terkesan terus mengalami kenaikan. “Angkot ini kan setiap hari beroperasi, jadi sangat rentan dengan kerusakan.
Ada saja spare part yang harus diganti. Jadi kalau harga spare part ini tidak turun juga, kami pun belum bisa turunkan tarif. Belum lagi kami harus kejar setoran,” katanya. Sementara itu, masyarakat sudah mulai meminta agar tarif angkutan ini diturunkan. Warga Jalan Sisingamangaraja Medan, Rikson Pardosi, 48, mengatakan tarif angkutan harus diturunkan karena harga BBM juga sudah turun.
Pemko Medan mesti segera membahas penurunan tarif ini bersama pengusaha angkutan dan instansi terkait lainnya. Rikson mengatakan tarif angkutan sekarang sangat membebani orang tua masyarakat, terutama yang anaknya menggunakan jasa angkot ke sekolah. Setiap hari, tiga anaknya menggunakan angkot ke sekolah dan masing-masing harus mengeluarkan uang Rp10.000.
Penurunan tarif tentu akan mengurangi beban warga. “Pengusaha angkot ini harus fair, jangan mengambil keuntungan banyak di tengah penurunan harga BBM sekarang. Seharusnya tarif diturunkan, jangan memikirkan kepentingan sendiri,” katanya. Sementara itu, Ketua Koperasi Pengangkutan Umum Medan (KPUM) Jabmar Siburian menegaskan, pihaknya siap saja membahas penurunan tarif angkutan dengan Pemko Medan dan instansi lain.
Penurunan tarif angkutan merupakan hal yang wajar sebagai konsekuensi penurunan harga BBM. “Tapi semua hal harus dipertimbangkan semua hal, termasuk mengenai harga spare part yang hingga kini belum turun,” ujarnya. Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut Darwin Purba mengatakan, hingga saat ini belum ada petunjuk resmi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait perubahan tarif angkutan di Sumut.
Dishub akan tetap menunggu petunjuk dari Kemenhub untuk penurunan tarif angkutan ini. Dalam waktu dekat, Dishub juga akan memanggil pihak-pihak terkait untuk membahas bersama penurunan tarif ini. “Saya belum bisa menyampaikan berapa besar kemungkinan persentase penurunan tarif angkutan ini. Nanti akan kita bahas dulu supaya tahu bagaimana pendapat dari pihak pengusaha angkutan maupun pihak terkait lainnya,” tandasnya.
sumber foto dan konten : http://news.okezone.com/

Share on Google Plus

About Syawaluddin Amin

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment